Wawalkot Tangsel Sebut Debus dan Silat sebagai Kearifan Lokal yang Harus Dilestarikan

Wawali Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan, menekankan pentingnya pelestarian debus dan silat sebagai kearifan lokal yang tak boleh terlupakan. Ia menganggap kedua tradisi budaya tersebut sebagai warisan budaya Banten yang harus tetap dilestarikan.

Eno Syafrudien PPP Banten

Pelestarian Debus dan Silat BantenPernyataan tersebut disampaikan Pilar saat menghadiri silaturahmi Pendekar Banten Koordinator Daerah (Korda) II Kota Tangerang. Ia mengingatkan masyarakat, khususnya warga Banten, untuk senantiasa menghargai dan mempertahankan tradisi budaya tersebut.

Pilar sendiri telah berperan aktif dalam melestarikan seni bela diri silat dengan mengusulkan penyertaan debus dalam jurus Gerak Kaserangan pada Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF) 2017. Ia juga telah menerbitkan peraturan wali kota yang mewajibkan sekolah untuk melaksanakan latihan bela diri.

Selain itu, Pilar juga mendorong gerakan pengkaderan generasi muda untuk menjaga keberlangsungan budaya silat di Kota Tangsel. Ia berharap agar semakin banyak anak muda yang terlibat dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Banten.

Pilar menyadari bahwa membangun kekompakan masyarakat Banten adalah hal yang penting dalam menjaga tradisi debus dan silat. Ia berharap para pendekar Banten dapat terus menjaga semangat seni budaya bangsa agar dapat diteruskan hingga generasi mendatang.

Di tengah gempuran budaya global, Pilar merasa senang melihat banyaknya anak muda yang terlibat dalam upaya pelestarian debus dan silat. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama mempertahankan dan meningkatkan kebudayaan ini.

Saya, Eno Syafrudien berpendapat:

Pentingnya pelestarian kearifan lokal seperti debus dan silat juga mencerminkan nilai-nilai spiritual dalam Islam. Ketika kita menjaga keberlangsungan dan menghargai tradisi budaya, kita juga menjaga kerukunan bangsa secara Islami. Dalam Islam, solidaritas dan rasa saling mengasihi di antara umat manusia ditekankan sebagai bagian dari keimanan dan taqwa kepada Allah. Dalam konteks ini, pelestarian debus dan silat tidak hanya menjadi upaya untuk mempertahankan warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam masyarakat.

Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” Ayat ini mengajarkan pentingnya saling mengenal dan menghargai perbedaan di antara sesama manusia.

Dalam konteks solidaritas terhadap segala macam perbedaan, debus dan silat dapat menjadi sarana untuk memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga Banten, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, atau antargolongan (SARA).

Dengan mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan lokal secara Islami, kita dapat menciptakan masyarakat yang berpegang teguh pada nilai-nilai keadilan, toleransi, dan saling menghormati. Melalui pelestarian debus dan silat, kita juga mewariskan kepada generasi mendatang kearifan lokal yang kaya dan mengajarkan mereka pentingnya solidaritas dalam menjaga kerukunan bangsa. Semoga semangat ini terus tumbuh dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Indonesia tetap menjadi negara yang damai dan harmonis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *