Sinyal Internet Di Baduy Dihapus, Kearifan Lokal Terjaga

[foto Suku Baduy Dalam]

Penghapusan sinyal internet di daerah suku Baduy telah menarik perhatian. Sebagai komunitas yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat, suku Baduy hidup dalam ketatnya norma dan aturan adat. Identitas mereka sebagai “Urang Kanekes” tercermin dalam keterikatan mereka dengan alam dan isolasi dari dunia luar.

Suku Baduy terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Lewidamar, Kabupaten Lebak. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam, yang dapat dibedakan dari warna pakaian adat yang mereka kenakan.

Baduy Dalam (Kanekes Tangtu) merupakan kelompok yang sangat menjunjung tinggi aturan yang ditetapkan oleh leluhur mereka. Mereka tinggal di tiga kampung, yaitu Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Pakaian adat yang mereka kenakan berwarna putih dan harus ditenun atau dijahit sendiri. Aturan adat di Kanekes Dalam sangat ketat, melarang penggunaan alat elektronik, mewajibkan membangun rumah menghadap utara/selatan (kecuali rumah pu’un), dan melarang penggunaan transportasi. Oleh karena itu, tak jarang kita melihat warga Kanekes berjalan kaki ke mana pun mereka pergi.

Sementara itu, Baduy Luar (Kanekes Luar) merupakan kelompok yang tinggal di wilayah sekitar Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, dan lainnya. Warga Kanekes Luar tidak seketat warga Kanekes Dalam dalam mematuhi aturan adat. Mereka lebih terpengaruh oleh dunia modern, menggunakan alat elektronik, berkendara, dan mengadopsi pakaian seperti masyarakat umum di luar Baduy.

Para tetua adat Baduy sebelumnya meminta agar sinyal internet di wilayah mereka dihapus, terutama di Baduy Dalam, dengan tujuan untuk menghindari konten negatif dan menjaga keutuhan adat istiadat. Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada Baduy, tetapi juga merasuki daerah sekitarnya. Misalnya, warga Kecamatan Cirinten melaporkan bahwa sinyal internet di wilayah mereka juga hilang karena berdekatan dengan Baduy.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah mengabulkan permintaan warga Baduy tersebut, sehingga sinyal internet yang memancar ke arah Baduy Dalam kini tidak lagi dapat diakses. Namun, permasalahan lain muncul, di mana beberapa daerah yang berdekatan dengan Baduy Dalam juga terdampak. Pemerintah perlu memperhatikan hal ini karena masyarakat di luar Baduy sudah terbiasa menggunakan gadget dalam kehidupan sehari-hari.

[foto Kampanye Eno Syafudien]

Saya, Eno Syafrudien menanggapi hal ini;

Keputusan untuk menghargai tindakan dari prinsip dan keyakinan suku Baduy Dalam dalam menghapuskan sinyal internet di wilayah mereka merupakan contoh nyata menghargai kearifan lokal dan menjaga harmoni dalam keragaman budaya di Indonesia. Islam mengajarkan nilai-nilai saling menghormati, toleransi, dan mempertahankan tradisi yang telah ada sebelumnya. Melalui penghormatan terhadap prinsip dan keyakinan suku Baduy Dalam, kita juga dapat belajar untuk menghargai dan menjaga keberagaman budaya yang ada di seluruh negeri ini. Semoga semangat penghargaan ini dapat membawa manfaat positif bagi semua pihak dan memperkuat kerukunan antarwarga negara kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *