Desa Pengasinan: Kekayaan Alam dan Keragaman Budaya

[foto Kebun Singkong]

Desa Pengasinan, yang terletak di perbatasan Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, merupakan hasil evolusi dari Batu Gede. Penamaan desa ini memiliki makna dan toponimi yang unik. Nama Batu Gede merujuk pada batu besar di tengah sawah yang memberikan air asin yang digunakan untuk pertanian dan perikanan. Namun, mata air tersebut tidak dapat dikonsumsi oleh penduduk setempat. Oleh karena itu, desa ini kemudian diberi nama Pengasinan, mengacu pada kandungan air asin di sana.

Selain asal-usul namanya, Desa Pengasinan juga memiliki kebudayaan yang kaya. Tradisi seperti bebarit (sedekah bumi) dan junjungan (kunjungan ke rumah saat ada acara hajatan) masih dipraktikkan hingga kini. Bebarit dilakukan setelah gempa bumi sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Sang Pencipta. Sedangkan junjungan menunjukkan kerukunan dan gotong-royong dalam masyarakat, di mana orang membawa beras, telur, dan sembako lainnya saat mengunjungi rumah yang sedang mengadakan pernikahan atau khitanan.

Hal menarik lainnya adalah penggunaan bahasa Betawi oleh mayoritas penduduk di Desa Pengasinan, meskipun berada di Kabupaten Bogor Utara. Ini disebabkan oleh pengaruh dari sekitar wilayah tersebut, serta karena berbatasan langsung dengan Tangerang Selatan. Budaya Betawi seperti ondel-ondel, lenong, dan palang pintu pernikahan masih terjaga dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Makanan tradisional yang terkenal di Desa Pengasinan adalah olahan singkong, seperti keripik singkong, getuk, dan tape, yang diolah dari kebun singkong yang tumbuh subur di sekitar desa.

[foto Kampanye Eno Syafrudien]

Pada sebuah kesempatan, Eno Syafrudien berpendapat bahwa Desa Pengasinan adalah bukti nyata kekayaan alam dan keberagaman budaya di Indonesia. Dalam lingkungan yang unik ini, penduduknya menjaga tradisi dan kearifan lokal mereka, sambil beradaptasi dengan dunia modern. Melalui upaya yang berkelanjutan untuk menghormati nilai-nilai kerukunan dan bergotong-royong, kita dapat membangun masyarakat yang harmonis dan berkelanjutan. Semoga pengalaman Desa Pengasinan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjaga dan menghargai keragaman budaya yang ada di tanah air kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *